Rachel Maryam: Kok Nyalahin Masyarakat Gak Taat Aturan? Wong Aturannya Berubah-ubah

Subtitle goes here

By:

Mei 23, 2020

Shares

0.0 of 0 Users
Loading...

Tagar Indonesia Terserah tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Ungkapan ini muncul semenjak dibagikan oleh para tenaga medis yang merasa kecewa dengan sikap masyarakat yang mulai tidak mengindahkan protokol kesehatan di tengah pandemi virus corona.

Tak hanya tenaga medis, sejumlah pihak juga turut mengungkapkan rasa kecewa kepada masyarakat yang nekat berkerumun di sejumlah tempat umum seperti mall dan bandara.

Kondisi ini disebut juga sebagai penyebab penambahan kasus Covid-19 tertinggi sejak pertama kali diumumkan adanya kasus Corona pada 2 Maret 2020

Loading...

Tercatat pada Kamis (21/5/2020) Indonesia mengalami penambahan kasus mencapai 973 orang. Angka ini jelas menjadi pukulan berat bagi masyarakat. Mulai dari kerja, sekolah hingga ibadah di rumah.

Namun jelang lebaran, upaya memutus penyebaran virus corona ini malah seakan dianggap remeh oleh banyak orang.

Ini terbukti dengan meningkatnya jumlah penumpang di bandara, stasiun, terminal. Malahan kini pusat perbelanjaan dan pasar juga sudah mulai penuh.

Melihat kondisi ini, Politisi Partai Gerindra Rachel Maryam menilai bahwa kondisi ini bukan semata-mata kesalahan masyarakat. Menurutnya pemerintah juga ikut andil terhadap kekacauan yang terjadi di Indonesia saat ini.

Rachel Maryam menilai keadaan seperti ini tidak akan terjadi jika pemerintah lebih konsisten terhadap kebijakan yang telah diambil.

Hal ini diungkapkan Rachel Maryam melalui akun Twitter pribadinya.

“Kok jadi nyalahin masyarakat gak taat aturan si? Wong aturannya aja berubah-ubah kok. “Gak perlu belanja lebaran” tapi mall udah boleh buka. “Jangan mudik” tapi pesawat boleh terbang. Kan gak jelas!” tulis Rachel Maryam.

Cuitan Rachel Maryam ini rupanya mendapatkan respon dari Fadli Zon. Senada dengan Rachel Maryam, Fadli Zon juga menilai bahwa kondisi ini adalah kesalahan dari pemerintah.

“Jgn salahkan rakyat. Yg salah memang pemimpinnya, plin plan, mencla mencle, plonga plongo, inkonsisten, bingung, apalagi ya sinonimnya,” tulis Fadli Zon.

Dedi Mulyadi Minta Sejumlah Pihak Jangan Memojokkan Masyarakat

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi meminta semua pihak untuk tidak memojokkan warga yang belanja baju di toko atau kebutuhan makanan untuk lebaran di pasar.

Menurut Dedi, beberapa pihak harus paham tentang psikologi sosial masyarakat bahwa merayakan lebaran itu adalah peristiwa istimewa.

Ada tradisi lebaran yang sulit dihilangkan, yakni membeli baju baru dan belanja makanan untuk lebaran. Apalagi, banyak di antara mereka yang mampu membeli baju baru setahun sekali.

“Tidak semua orang mampu beli baju baru setiap bulan. Ada masyarakat yang hanya mampu beli baju setahun sekali dan beli daging setahun sekali. Jadi jangan nyinyir dan memojokkan mereka,” kata Dedi dihubungi via telepon, Jumat (22/5/2020), dikutip dari Kompas.com.

Menurut Dedi, sebagian besar masyarakat, terutama di desa, berbelanja menjelang lebaran karena tidak mau kehilangan momentum. Rasanya berbeda antara membeli baju sebelum lebaran dengan sesudah lebaran.

“Saya paham karena saya juga orang desa. Ketika lebaran itu sudah berlalu, dia pun kehilangan momentum,” katanya.

“Kita tak bisa samakan Indonesia dengan luar negeri. Di bangsa lain, beli baju baru itu tidak aneh. Di kita, bagi masyara tertentu, beli baju baru itu aneh dan tradisi ini susah dihindari,” lanjut mantan bupati Purwakarta ini.

Dedi juga menyinggung tentang bantuan sosial dibelikan baju lebaran. Menurut Dedi, jika bantuan sosial dipakai untuk beli baju lebaran lalu masalahnya apa. Itu artinya bahwa penerima bantuan sosial sudah memiliki kecukupan makanan di rumahnya sehingga sebagian bantuan sosial digunakan untuk membeli baju.

“Ya, sekali-sekali mereka gunakan uang dari negara untuk membeli baju lebaran dan itu setahun sekali. Bukankah para pejabat juga pakai uang negara untuk beli baju, sama saja kan? Bahkan pejabat itu bisa beli sebulan sekali,” kata wakil ketua Komisi IV ini.

Terkait antrean warga di toko, Dedi mengatakan karena mereka membeli keperluannya disekalikan akibat sudah lama tinggal di rumah setelah pemabatasan sosial berskala besar (PSBB). Sementara di sisi lain, waktu buka toko dibatasi.

“Otomatis akan terjadi antrean. Apalagi jumlah orang di dalam toko juga dibatasi,” katanya.

sumber: TRIBUNPALU.COM

0 Comment

Leave a Comment