Petaka Pesugihan yang Berawal dari Sepiring Nasi Goreng

Subtitle goes here

By:

Mei 28, 2020

Shares

4.0 of 1 User
Loading...

Sudah 5 mobil lewat dengan kecepatan tinggi, namun pandangan Pepeng tak lepas dari Jalanan yang sudah mulai sepi itu. Sejak ia membuka gerobak nasi gorengnya pada pukul 6 sore, hanya dua orang yang mampir dan memesan nasi goreng buatannya. Sekarang sudah pukul setengah dua belas, dan yang Pepeng lakukan hanya melihat ke sebarang jalan.

Semua ini tidak terjadi saat itu, saat di mana ia selalu menghitung uang dengan perasaan senang setiap selesai membereskan warung. Adapun warungnya selalu dipadati pengunjung bahkan saat ia masih mempersiapkan gerobak dan kursi-kursi plastik.

Bukan karena lokasinya yang dekat dengan perkantoran dan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota, bukan pula karena harga yang sebenarnya Pepeng patok mahal. Pepeng sebelumnya sukses berbisnis nasi goreng karena menggunakan penglaris.

Loading...

Selepas dari sekolah masak, Pepeng mencoba untuk membuka warung nasi goreng impiannya. Hal itu dikarenakan rasa percaya dirinya terhadap tangannya sendiri dalam urusan memasak, juga ia berkesimpulan bahwa nasi goreng merupakan makanan yang familiar di masyarakat.

Namun, mimpinya tak setinggi modal yang ia miliki. ia hanya memiliki modal yang cukup untuk beli gerobak, peralatan masak, peralatan makan, dan bahan baku, itu juga yang berkualitas rendah.

Pilihan untuk pulang kampung dan meminta uang kepada orang tuanya yang bekerja di kebun milik orang lain dirasa hanya akan membuatnya sedih dan merasa bersalah. Berhutang kepada lintah darat pun ia nilai sebagai langkah yang buruk karena sebagaimana julukannya, Pepeng hanya akan dihisap perlahan-lahan hingga kering.

Permasalahan yang menempel di kepalanya terkait dana itu kemudian luruh ketika ia membaca sebuah majalah di gerai koran dan majalah kecil di dekat indekosnya. Sampul majalah tersebut terlihat paling mencolok karena terdapat gambar sosok manusia, namun yang membedakannya dengan manusia adalah sosok tersebut berwarna hitam seperti bayangan serta memiliki perawakan tinggi dan besar. Yang membuat Pepeng tertarik untuk membukanya adalah, di sampul tersebut tertera sebuah rubrik pesugihan yang membahas “Pendatang Rezeki Rumah Makan”.

Berbekal informasi di majalah tersebut, sampailah Pepeng dihadapan dukun sang pendatang rezeki rumah makan. Dalam majalah, dukun tersebut bernama Eko Abdi Wijaya, tapi ia memperkenalkan diri kepada Pepeng sebagai mbah Jaya.

Pepeng hanya diam saja saat mbah Jaya mulai menceritakan riwayat hidup serta bagaimana ia bisa mendapatkan ilmu hitam dan klenik miliknya. Sejujurnya Pepeng tidak peduli tentang tempat semedi atau apapun yang dilakukan mbah Jaya di masa lalu, ia hanya ingin segera mengetahui tentang pesugihan yang dijelaskan oleh mbah Jaya saat wawancara untuk majalah yang ia baca.

“Pesugihan ini tidaklah sulit, kamu hanya perlu memberikan uang kepada saya hari ini sebagai mahar, serta menyiapkan jamuan untuk sang penolong setiap hari,” ujar mbah Jaya.

Pepeng tahu kalau sang penolong itu bukan manusia, namun demi menggapai keinginannya untuk berbisnis nasi goreng, ia menyanggupi untuk membayarkan uang mahar kepada mbah Jaya, juga menyiapkan jamuan untuk sang penolong di rumah kontrakannya.

“Kalau kamu bersedia, berarti kamu juga sudah harus siap menjaga ini. taruh di gerobak setiap kali kamu berjualan, dijamin kamu akan untung banyak.”

Mbah Jaya memberikan kantung kecil berwarna hitam yang diikat dengan tali berwarna putih. Pepeng memperhatikan dengan seksama jimat yang ada di tangannya tersebut, dan memikirkan apa yang ada di dalam kantung.

“Di dalamnya hanya kertas, tapi sudah kuberi bacaan agar kertas tersebut mendatangkan pelanggan, hanya saja kamu harus ingat tentang syarat-syarat yang sudah kusebutkan tadi, kalau tidak, kamu bisa celaka.” ujar mbah Jaya.

“Baik, mbah,” ujar Pepeng dengan antusias.

Malam harinya, Pepeng membuat nasi goreng untuk perjamuan pertama lalu lanjut pergi untuk berjualan nasi goreng keliling. Benar saja, jimat yang Pepeng taruh di dalam gerobak menunjukkan kesaktiannya. Orang-orang baik yang dari balik pagar rumah ataupun yang kebetulan melintas menggunakan sepeda motor memanggil untuk membeli nasi goreng buatannya.

Melihat jimatnya berhasil, Pepeng semakin rajin untuk membuat perjamuan untuk sang penolong. Ia juga semakin semangat untuk berjualan nasi goreng, bahkan hingga memperluas rute jualannya. Hal ini membuat pelanggan semakin berdatangan, dan tak sedikit menjadi pelanggan tetap.

Keberhasilan penglaris milik Pepeng membuatnya mampu membuka warung nasi gorengnya di tempat yang lebih strategis, yakni di sebelah pusat perbelanjaan terbesar di kota yang berada di dalam kawasan perkantoran. Hal ini dapat terwujudkan karena Pepeng juga sudah mampu membayar “uang keamanan” kepada preman-preman setempat.

Tenda nasi goreng Pepeng semakin ramai semenjak itu. Karena larisnya nasi goreng milik Pepeng, ia harus mempekerjakan 3 orang yang bertugas untuk mencuci peralatan dapur dan peralatan masak, menjadi kasir, dan membantunya memasak.

Kesuksesan Pepeng membuatnya lupa dengan syarat yang harus ia penuhi setiap hari. Ia tidak pernah lagi memberi jamuan kepada sang penolong karena merasa tidak punya cukup waktu. Ia lupa bahwa kelalaiannya dalam menjalakan pesugihan ini akan mendatangkan celaka.

Benar saja, tenda nasi goreng miliknya semakin sepi seiring jarangnya ia membuat jamuan. Biasanya ia bisa menjual puluhan piring dalam satu malam, namun semakin ke sini, ia hanya mampu menjual belasan piring saja.

Karena ditimpa hal buruk, Pepeng kembali memasak untuk jamuan bagi sang penolong, tapi tetap saja keuntungan berkurang drastis. Pepeng tidak mampu menggaji karyawan dan membeli bahan-bahan yang bagus untuk nasi gorengnya sehingga Ia terpaksa bekerja sendirian lagi dan menurunkan harga agar bisa bertahan, sayangnya kerugian tetap saja menjadi pelanggan setia tempo malam.

“Gak guna!” teriak Pepeng sambil melempar jimat itu ke kali ketika di jalan pulang.

Sesampainya di rumah, Pepeng langsung tertidur karena merasa Lelah dan stress. Dalam mimpi, ia mendapati kaki dan tangannya diikat di sebuah ruangan. Ia tidak sendiri di ruangan tersebut, melainkan bersama sosok makhluk tinggi, besar dan berwarna hitam yang persis seperti di sampul majalah yang ia lihat.

Mimpi buruk tersebut membuatnya terjaga hingga matahari terbit. Dengan penuh harap untuk lepas dari rasa takut, ia mendatangi rumah mbah Jaya, namun ia tak menyangka bahwa rumah mbah Jaya sudah dikelilingi garis polisi.

Sudah 5 mobil lewat dengan kecepatan tinggi, namun pandangan Pepeng tak lepas dari Jalanan yang sudah mulai sepi itu. Sejak ia membuka gerobak nasi gorengnya pada pukul 6 sore, hanya dua orang saja yang mampir. Sekarang sudah pukul setengah dua belas, dan yang Pepeng lakukan hanya terfokus ke seberang jalan.

Pepeng tidak melamun, atau memikirkan bisnisnya yang berada di ujung tanduk. Ia melihat ke seberang jalan karena di seberang jalan ada sosok makhluk yang memperhatikannya. Makhluk tersebut seperti manusia, namun lebih tinggi dan besar serta seluruh tubuhnya berwarna hitam. Makhluk itu persis seperti yang Pepeng lihat di dalam mimpi, dan di sampul majalah tempat ia menemukan cara pesugihan.

sumber: kumparan.com

0 Comment

Leave a Comment