Pengertian Majas dan Macam – Macam Majas

Subtitle goes here

By:

Mei 06, 2020

Shares

0.0 of 0 Users
Pengertian Majas
Loading...

Pengertian Majas adalah gaya bahasa yang digunakan dalam suatu karya sastra dengan tujuan untuk memberikan efek-efek tertentu sehingga membuat karya sastra tersebut menjadi lebih hidup.

Penggunaan majas bertujuan untuk menyampaikan suatu pesan secara imajinatif atau bermakna kiasan, baik melalui tulisan maupun lisan untuk mewakili pikiran dan perasaan seorang penulis. Sedangkan fungsi majas adalah untuk membuat suatu karya sastra menjadi lebih indah dalam aspek pemilihan katanya.

Pengertian Majas Menurut Para Ahli

Loading...

Para Ahli memiliki pendapat berbeda beda mengenai majas. Berikut beberapa pendapat para ahli mengenai majas.

  1. Prof. Dr. H. G. Tarigan
    Majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui gaya bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian seorang penulis.
  2. Goris Keraf
    Menurut Goris Keraf, pengertian majas adalah suatu gaya bahasa dalam karya sastra yang disampaikan secara jujur, sopan-santun, dan menarik.
  3. Aminuddin
    Menurut Aminuddin, pengertian majas adalah gaya bahasa yang digunakan oleh seorang penulis dalam memaparkan gagasannya sesuai dengan tujuan dan efek tertentu yang ingin dicapai.

Macam – Macam Majas

Macam - Macam Majas

Macam – Macam Majas

Majas dapat dibagi menjadi empat kelompok besar, yaitu :

  1. Majas Perbandingan
  2. Majas Pertentangan
  3. Majas Sindiran
  4. Majas Penegasan.

Berikut ulasan selengkapnya :

Majas Perbandingan

Majas ini merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menyandingkan atau membandingkan suatu objek dengan objek lain melalui proses penyamaan, pelebihan, ataupun penggantian. Adapun beberapa majas perbandingan, diantaranya:

  1. Personifikasi
    Gaya bahasa yang digunakan seolah menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap layaknya manusia.

Contoh: Seiring aku beranjak pergi, hamparan ilalang seolah melambaikan tubuhnya sebagai tanda pisah.

  1. Metafora
    Meletakkan sebuah objek yang bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ungkapan.

Contoh: Fajar merupakan tangan kanan dari komisaris Perusahaan.
Tangan kanan merupakan ungkapan bagi orang yang setia dan dipercaya.

  1. Asosiasi
    Membandingkan dua objek yang berbeda, namun dianggap sama dengan pemberian kata sambung bagaikan, bak, ataupun seperti.

Contoh: Kakak beradik itu bagaikan pinang dibelah dua.
Artinya keduanya memiliki wajah yang sangat mirip.

  1. Hiperbola
    Yaitu mengungkapkan sesuatu dengan kesan berlebihan, bahkan hampir tidak masuk akal.

Contoh: Orang tuanya memeras keringat agar anak tersebut dapat terus bersekolah. Memeras keringat artinya bekerja dengan keras.

  1. Eufemisme
    Gaya bahasa yang mengganti kata-kata yang dianggap kurang baik dengan padanan yang lebih halus.

Contoh: Seorang difabel tetap mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih mimpinya.
Difabel menggantikan frasa “orang cacat”.

  1. Metonimia
    Yaitu menyandingkan merek atau istilah sesuatu untuk merujuk pada pada benda umum.

Contoh: Ibu memintaku membelikan rinso di warung.
Rinso artinya sabun untuk mencuci pakaian

  1. Simile
    Hampir sama dengan asosiasi yang menggunakan kata hubungan bak, bagaikan, ataupun seperti; hanya saja simile bukan membandingkan dua objek yang berbeda, melainkan menyandingkan sebuah kegiatan dengan ungkapan.

Contoh: Kelakuannya bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
Artinya seperti tidak tahu aturan atau tidak tau arah tujuan

  1. Alegori
    Yaitu menyandingkan suatu objek dengan kata-kata kiasan.

Contoh: Suami adalah nakhoda dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.
Nakhoda yang dimaksud berarti pemimpin keluarga.

  1. Sinekdok
    Gaya bahasa terbagi menjadi dua bagian, yaitu sinekdok pars pro toto dan sinekdok totem pro parte. Sinekdok pars pro toto merupakan gaya bahasa yang menyebutkan sebagian unsur untuk menampilkan keseluruhan sebuah benda. Sementara itu, sinekdok totem pro parte adalah kebalikannya, yakni gaya bahasa yang menampilkan keseluruhan untuk merujuk pada sebagian benda atau situasi.

Contoh:
Pars pro Toto: Hingga bel berbunyi, batang hidung Reni belum juga kelihatan.
Totem pro Parte: Indonesia berhasil menjuarai All England hingga delapan kali berturut-turut.

  1. Simbolik
    Gaya bahasa yang membandingkan manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya dalam ungkapan.

Contoh: Dia selalu bersikap malu-malu kucing dihadapan gebetannya.
Artinya malu-malu tapi mau.

Majas Pertentangan

Majas pertentangan merupakan gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kias yang bertentangan dengan maksud asli yang penulis curahkan dalam kalimat tersebut. Jenis ini dapat dibagi menjadi beberapa subjenis, yakni sebagai berikut.

  1. Litotes
    Berbeda dengan hiperbola yang merupakan majas perbandingan, litotes merupakan ungkapan untuk merendahkan diri, meskipun kenyataan yang sebenarnya adalah yang sebaliknya.

Contoh: Selamat datang ke gubuk kami ini.
Gubuk memiliki artian sebagai rumah.

  1. Paradoks
    Yaitu membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi yang berkebalikannya.

Contoh: Pada ramainya pesta malam ini, aku masih saja merasa sepi.

  1. Antitesis
    Yaitu memadukan pasangan kata yang artinya bertentangan.

Contoh: Film tersebut disukai oleh tua-muda.

  1. Kontradiksi Interminis
    Gaya bahasa yang menyangkal ujaran yang telah dipaparkan sebelumnya. Biasanya diikuti dengan konjungsi, seperti kecuali atau hanya saja.

Contoh: Semua masyarakat semakin sejahtera, kecuali mereka yang berada di perbatasan.

Majas Sindiran

Majas sindiran merupakan kata-kata kias yang memang tujuannya untuk menyindir seseorang ataupun perilaku dan kondisi. Jenis ini terbagi menjadi tiga subjenis, yaitu sebagai berikut.

  1. Ironi
    Yaitu menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan fakta yang ada.

Contoh: Rapi sekali kamarmu sampai sulit untuk mencari bagian kasur yang bisa ditiduri.

  1. Sinisme
    Yaitu menyampaikan sindiran secara langsung.

Contoh: Suaramu keras sekali sampai telingaku berdenging dan sakit.

  1. Sarkasme
    Yaitu menyampaikan sindiran secara kasar.

Contoh: Kamu hanya sampah masyarakat tahu!
Artinya tidak berguna

Majas Penegasan

Majas penegasan merupakan jenis gaya bahasa yang bertujuan meningkatkan pengaruh kepada pembacanya agar menyetujui sebuah ujaran ataupun kejadian. Jenis ini dapat dibagi menjadi tujuh subjenis, yaitu sebagai berikut:

  1. Pleonasme
    Yaitu menggunakan kata-kata yang bermakna sama sehingga terkesan tidak efektif, namun memang sengaja untuk menegaskan suatu hal.

Contoh: Ia naik ke atas tangga dengan sangat tergesa-gesa.
Padahal naik sudah pasti ke atas

  1. Repetisi
    Gaya bahasa ini mengulang kata-kata dalam sebuah kalimat.

Contoh: Dia pelakunya, dia pencurinya, dia yang mengambil kalungku.

  1. Retorika
    Yaitu memberikan penegasan dalam bentuk kalimat tanya yang tidak perlu dijawab.

Contoh: Memangnya ada maling yang mau ngaku?

  1. Klimaks
    Yaitu mengurutkan sesuatu dari tingkatan rendah ke tinggi.

Contoh: Bayi, anak kecil, remaja, orang dewasa, hingga orang tua seharusnya memiliki asuransi kesehatan.

  1. Antiklimaks
    Berkebalikan dengan klimaks, gaya bahasa untuk antiklimaks menegaskan sesuatu dengan mengurutkan suatu tingkatan dari tinggi ke rendah.

Contoh: Masyarakat perkotaan, perdesaan, hingga yang tinggi di dusun seharusnya sadar akan kearifan lokalnya masing-masing.

  1. Pararelisme
    Gaya bahasa ini biasa terdapat dalam puisi, yakni mengulang-ulang sebuah kata dalam berbagai definisi yang berbeda. Jika pengulangannya ada di awal, disebut sebagai anafora. Namun, jika kata yang diulang ada di bagian akhir kalimat, disebut sebagai epifora.

Contoh:
Kasih itu sabar.
Kasih itu lemah lembut.
Kasih itu memaafkan.

  1. Tautologi
    Yaitu menggunakan kata-kata bersinonim untuk menegaskan sebuah kondisi atau ujaran.

Contoh: Hidup akan terasa tenteram, damai, dan bahagia jika semua anggota keluarga saling menyayangi.

Itulah pengertian majas dan jenis-jenisnya, untuk kamu yang suka menulis penggunaan majas ini tentu menjadi sangat penting untuk diketahui, guna memaksimalkan emosi yang lebih mendalam pada setiap rasa yang disampaikan dalam sebuah karya.

0 Comment

Leave a Comment