Pengertian Hari Waisak dan Tradisi Hari Raya Waisak di Berbagai Negara

Subtitle goes here

By:

Februari 08, 2020

Shares

0.0 of 0 Users
Pengertian Hari Waisak

Waisak atau Waisaka (Pali; Sanskrit: Vaiśākha वैशाख) adalah hari suci agama Buddha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, Vesak di Malaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali “Wesakha”, yang pada gilirannya juga terkait dengan “Waishakha” dari bahasa Sanskerta. Pada beberapa tempat disebut juga sebagai “hari Buddha”.

Hari Waisak ini dirayakan dalam bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu:

  1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M.,
  2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodh Gaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M.
  3. Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M.

Tiga peristiwa di atas dikenal dengan nama “Trisuci Waisak”. Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists – WFB) yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950. Perayaan ini dilakukan pada purnama pertama di bulan Mei.

Tradisi Hari Raya Waisak di Berbagai Negara

Berikut merupakan beberapa tradiri Hari Raya Waisak di berbagai Negara, diantaranya:

1. Indonesia

Meski Indonesia merupakan sebuah Negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Namun bukan berarti perayaan kelahiran Buddha ini tidak digelar dengan meriah dan unik. Peringatan puncak perayaan Waisak biasanya berpusat di Candi Borobudur, yang berada di daerah Magelang, Jawa tengah. Terdapat banyak rangkaian acara yang digelar dalam memperingati Trisuci Waisak. Secara garis besar semua kegiatan tersebut bisa dikelompokkan dalam 3 bagian, antara lain:

  • Prosesi pengambilan air berkat dari mata air Jumprit di Kabupaten Temanggung, serta penyalaan obor yang dilakukan dengan menggunakan sumber api abadi di Mrapen, Kabupaten Grobogan.
  • Ritual “Pindapatta”, yaitu sebuah ritual yang diberikan secara khusus kepada masyarakat (umat) untuk berbuat kebajikan, di mana mereka diberi kesempatan untuk memberikan dana makanan kepada para Bikkhu dan Bikshu.
  • “Samadhi” yang dilakukan pada detik-detik menjelang puncak bulan purnama. Dalam Buddha, penghitungan puncak purnama ini dilakukan berdasarkan perhitungan falak, sehingga bisa saja puncak purnama jatuh pada siang hari dan bukan malam hari.

Pada malam perayaan puncak Waisak, umat Buddha berkumpul dan menyalakan lilin dan memasukkannya ke dalam lentera. Lentera-lentera ini kemudian akan dilepaskan atau diterbangkan ke udara secara bersama-sama, sehingga akan terlihat sangat indah di langit malam yang gelap. Meski tidak terdapat makna khusus di dalam pelepasan lentera-lentera tersebut, namun hal ini telah menjadi sebuah tradisi perayaan Waisak yang dilakukan oleh umat Buddha di Indonesia.

Selain melepaskan lentera ke langit malam, di beberapa wilayah Indonesia juga ada tradisi melepas burung ke langit bebas. Di mana kegiatan ini dilakukan sebagai perayaan untuk menyambut hari dan keberuntungan yang baru di dalam hidup umat Buddha.

2. Singapura

Singapura memperingati Hari Raya Waisak dengan cara melepas burung dari sangkarnya ke udara. Hal ini dianggap melambangkan datangnya hari yang baru dan menjadi perayaan nilai-nilai yang ditinggalkan oleh Buddha bagi umatnya. Ini tentu menjadi sebuah ritual yang menyenangkan, sebab akan ada ribuan burung yang diterbangkan pada saat perayaan kelahiran Buddha tersebut berlangsung.

3. Taiwan

Di wilayah Taiwan, umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak dengan cara menuangkan air suci ke patung Buddha. Hal ini dianggap sebagai lambang dari sebuah awal yang baru di dalam kehidupan. Meski terbilang sederhana, namun kegiatan ini sarat akan makna dan menjadi bentuk rasa syukur.

4. Korea Selatan

Perayaan Hari Raya Waisak di Korea Selatan menjadi sebuah perayaan besar yang selalu ditandai dengan acara menghias candi-candi di wilayah tersebut. Ratusan lentera-lentera cantik berbentuk teratai akan dinyalakan untuk menerangi candi di kegelapan malam. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tradisi dalam mengenang kelahiran Sang Buddha ke dunia ini.

5. Nepal

Di Nepal umat Buddha akan berbondong-bondong menuju Lumbini, yang merupakan tempat kelahiran Buddha untuk merayakan Hari Raya Waisak. Dalam momen penting tersebut, mereka berbuat kebajikan dengan memberi sumbangan atau berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Selain itu, mengunjungi wihara-wihara untuk memberi penghormatan kepada Buddha. Bentuk perayaan utama lainnya adalah berdoa di Monkey Temple.

6. Sri Lanka

Bagi masyarakat Sri Lanka, perayaan Waisak akan disambut dengan warna-warni lampu yang ceria dan menyemarakkan wilayah tersebut. Berbeda dengan beberapa negara yang menyalakan dan melepas lentera sebagai perayaan kelahiran Buddha, Sri Lanka justru memasang lampu-lampu listrik berwarna-warni di berbagai sudut kota. Ini akan terlihat sangat unik dan menarik, terutama jika malam tiba.

Perayaan Hari Raya Waisak bagi umat Buddha bukanlah sebuah ritual semata. Hari Waisak ini adalah sebuah penyambutan kedatangan hari dan kelahiran jiwa yang baru. Indonesia dengan selogan Bhineka Tunggal Ika membuat Negara Indonesia menjadi Negara yang nyaman ditinggali oleh banyak orang dengan berbeda suku, budaya, dan keyakinan.

0 Comment

Leave a Comment