Apa Itu Herd Immunity – Kenali Strategi Akhir Atasi COVID-19 yang Ditolak Banyak Orang

Subtitle goes here

By:

Mei 21, 2020

Shares

0.0 of 0 Users
Loading...

Belakangan ini, banyak warganet tengah mencari informasi mengenai ‘herd immunity’, bahkan sempat menjadi trending di mesin pencari Google. Tren ini dipicu karena banyak negara seperti Swedia yang dikabarkan telah memilih untuk menerapkan herd immunity sebagai solusi untuk mengakhiri penyebaran wabah Covid-19.

Cara ini memicu perdebatan banyak pihak, hingga Organisasi Kesehatan Dunia pun tidak merekomendasi cara tersebut untuk diambil oleh para pemimpin negara.

Herd immunity adalah kekebalan kawanan yang terjadi jika mayoritas populasi sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit. Kekebalan ini bisa berasal dari vaksinasi atau yang kedua, jika hampir semua orang sudah terinfeksi lalu menciptakan antibodi yang bisa melawan penyakit.

Loading...

Cara kedua inilah yang menjadi perdebatan dan tidak disetujui banyak pihak. Metode itu dinilai banyak orang mengerikan karena memerlukan sekitar 70-80% populasi untuk terinfeksi virus tersebut terlebih dahulu dan lalu kemudian sembuh agar memiliki kekebalan tubuh terhadap virus itu. Ketika mayoritas masyarakat telah kebal, maka ruang bagi virus itu untuk menginfeksi orang akan menjadi lebih sedikit dan lama kelamaan menghilang.

Tetapi, kekebalan kawanan itu juga dicapai dengan jumlah korban yang barangkali tidak sedikit. Logikanya, semakin banyak yang terinfeksi lalu sembuh dan menjadi kuat menghadapi virus maka semakin sulit virus menemukan inang untuk berkembang biak. Sehingga penyebaran virus menjadi melambat.

Semenjak pemerintah Indonesia mulai melonggarkan restriksi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), bahkan telah membuat skenario rencana “normalisasi kehidupan”, banyak masyarakat yang telah memprediksi bahwa herd immunity bakal terjadi sebagai akibat dari terlalu dini melonggarkan restriksi.

Direktur Eksekutif WHO, Dr. Mike Ryan, merupakan salah satu dari banyak pihak yang menolak herd immunity. Menurutnya, mengambil langkah tersebut tanpa terlebih dahulu ditemukan vaksin bagi manusia merupakan langkah yang keliru. Ia pun menyesalkan banyak pihak yang mengandalkan herd immunity sebagai solusi karena belum sepenuhnya memahami resiko yang akan ditimbulkannya. “Pasalnya, manusia bukanlah kawanan (hewan).

“Pemikiran bahwa, ‘oh mungkin negara-negara yang memiliki peraturan longgar atau belum mengambil langkah apapun untuk menangani ini (wabah Covid-19) akan secara ajaib tiba-tiba mencapai herd immunity’, dan ‘ya terus mengapa kalau kita kehilangan sejumlah masyarakat lanjut usia’. Hal ini sangat berbahaya, perhitungan yang sangat berbahaya,” ujarnya prihatin.

Hal inilah yang menjadi resiko terbesar dalam menerapkan herd immunity, karena kaum lanjut usia merupakan kelompok yang paling rentan terhadap Covid-19.

Perlu diketahui juga bahwa virus Covid-19 masih dapat menetap dalam paru-paru hingga berpuluh-puluh hari setelah pasien dinyatakan sembuh. Hal inilah yang menyebabkan banyak kemunculan kasus orang terinfeksi Covid-19 untuk kedua kalinya, dengan arti orang itu sebelumnya telah sembuh, tapi kemudian sakit kembali. Inilah yang menjadi keprihatinan Dr. Mike jika herd immunity diterapkan dengan tidak adanya vaksin bagi manusia.

Pandu Riono, seorang ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI), juga mengatakan bahwa herd immunity tidak dapat diterapkan di Indonesia. Jika diterapkan, akan ada banyak pasien yang dirawat di rumah sakit, dan menyerah (meninggal) akibat penyakit jika tindakan itu diambil.

Pandu percaya bahwa orang harus disiplin dalam mengadopsi gaya hidup baru untuk mengekang Covid-19 kasus. “Apa gaya hidup baru? Hidup sehat, mengenakan masker, menjaga kebersihan, dan mempraktikkan pembatasan sosial berbasis masyarakat,” jelasnya.

0 Comment

Leave a Comment